Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Kalau aku harus menentukan siapa yang menjadi pihak terpenting dalam urutan hidupku, jawabku sudah pasti kau. Selama ini, kau pikir untuk apa aku menjadi selalu ingin menang? Untuk apa dulu aku "sendiri" kalau bukan agar kau merasa tenang? Atau saat ini, untuk apa aku berdua kalau bukan agar kau bahagia?
Aku tahu, kau sedang berada diusia rajin-rajinnya. Rajin belajar, bersekolah, rajin mencari informasi, ilmu, mencari restu, mencari jati diri, rezeki, atau sekedar mencari-cari perhatian seseorang yang tak pernah kau dapatkan sejak dulu. Selama kau percaya yang kau lakukan adalah baik. Selama kau punya keimanan untuk hal-hal yang hanya bisa kau yakini dengan baik, lakukanlah, selesaikanlah. Tuai seluruh rasa bangga dari segala rasa apa yang sejak dulu kau tanam dengan kerja keras. Kelelahanmu itu berarti untuk kau mempelajari dirimu sendiri.
Tak usah iri dengan kehidupan orang lain, yang bahkan kau tak tahu baik buruknya. Pikirkanlah walau harus berkali-kali, kau diberikan hidup untuk disyukuri atau disia-siakan dengan hati dan kepala yang panas setiap hari? Percayalah, mereka itu tidak hidup beruntung, kau hanya tak tahu bagaimana perjuangannya. Mereka itu tidak serta-merta punya segalanya, kau hanya tak tahu segiat apa mereka berusaha. "Hidup enak" yang kau bilang itu tak ada durasi dalam prosesnya. Kau bahkan tak tahu selantang dan sepanjang apa doa-doanya.
Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Memang akupun setuju kewajiban paling berat mungkin adalah menerima. Tinggal di lingkungan yang menyakitkan, atau belajar di sekolah yang tak begitu dikenal, atau bekerja bukan pada perusahaan ternama, atau bahkan, hanya menerima kalau kau bukan hanya seseorang yang ingin dia curi hatinya. Sungguh, kalau semua hal yang tak menyenangkan bisa dan mau ditulis, semua jari-jari manusia sudah pasti mati rasa.
Tapi tenang, mereka bukan hanya diperuntukkan bagimu saja. Setiap orang pasti punya titik terendah dalam hidupnya dan merekapun dituntut untuk menerima. Bedanya,mereka bisa menerima ketentuan-ketentuan dengan lapang dada. Aku yang di sini malah masih saja berkutat dengan sumpah serapah atas ketidakberhasilanmu. Kalau sampai setelah ini kau masih sulit menerima, kau, sungguh, benar-benar tak tahu malu.
Untuk yang paling kusayang, diriku sendiri.
Inipun penting selagi kau masih bujang. Masih belum ada tanggungan lamar-melamar, berlarilah dengan kakimu sampai kau menjadi insan yang paling bebas, berkarya positif tanpa batas, percaya dirilah walau cintamu berkali-kali kandas. Jangan terlalu bersandar pada harap-harap atas kriteria pasangan yang akan kau nikahi nanti. Tuhan tahu kau pantas untuk seseorang yang seperti apa.
Aku terlihat bagus bersanding dengannya.
Senyumnya terlihat bagus untuk kukecup setiap paginya.
Tidak sesederhana itu. Pantaskan diri dahulu agar kriteria-yang kau sebutkan setiap hari di dalam hati-itu boleh menjadi milikmu. Mutiara akan pantas bersama emas atau perak, tidak dengan besi yang dingin dan bau. Jangan lagi meminta banyak hal lalu kesal sendiri kalau tak terkabulkan. Lihat dulu ke belakang, usaha apa saja yang sudah kau lakukan? Jodoh yang kau idam-idamkan tidak begitu saja turun dari langit, harus dijemput. Paling tidak, minimal, sifat, karakter, dan kebiasaan yang kau mau itu sudah ada dalam dirimu sendiri.
Tapi, satu yang harus kau ingat, sebebas-bebasnya kau berlarian, kau harus tetap tahu aturan. Karena menjadi muda itu bukan hanya soal tumbuh menua, kaupun harus belajar mengendalikan beban dan tanggungan. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan pengorbanan-pengorbanan yang mungkin dulu tak pernah kau duga.
Diriku sendiri, tak perlu membanggakan dunia, banggakan aku terlebih dahulu. Buat aku percaya kau bisa menaklukan musuh-musuh yang selalu timbul dalam hatimu. Bangkitlah gunakan pijakan terkuatmu, bertekadlah gunakan iman-imanmu.
Fokuslah dahulu pada pembelajaran diri, buat dirimu manusia yang paling mengerti kecacatan keunggulanmu sendiri. Aku tak kan ke mana-mana. Tuhanmu apalagi, yang punya semua rencana.
Satu lagi, terakhir. Diriku sendiri yang kusayangi, berhentilah khawatir soal jodoh dan rezeki. Sama halnya dengan usia, tiga hal itu sudah disediakan Tuhan untuk kau jemput sendiri. Kau tahu, Tuhan tak kan memberikan hal baik begitu saja. Harus ada kemauan dari hambaNya.
Ini bukan omong kosong, kau pasti menyadarinya nanti. Alasan satu-satunya kau menjalani hidup seperti ini adalah karena memang hanya kau yang bisa melaluinya. Orang lain belum tentu mampu. Kau benar-benar seistimewa itu.
Oh, iya. Maaf selama ini kau harus terlalu sering mengalah walau tak salah. Maaf kau harus berkali-kali melepaskan yang bahkan belum sempat kau genggam. Terima kasih karena selalu kuat. Terima kasih karena kau masih hidup dan terus belajar hal-hal hebat.
Aku menyayangimu, sungguh.
~
Manisnyaaa ~
Untuk diriku sendiri, Wahida Salihin.
Everything in it, I love you. Ofcours.
Untuk diriku sendiri, Wahida Salihin.
Everything in it, I love you. Ofcours.
❤
Sesuka itu saya sama karya-karyamu, Nanidlot.
Sesuka itu saya sama karya-karyamu, Nanidlot.
Iya, penggalan puisi di atas itu merupakan salah satu dari sekian banyak karya puisi dari seorang perempuan berbakat bernama Nawang Nidlo Titisari.
Nah, buat kalian-kalian yang mau baca karya-karyanya, you can find her di blognya. Klik saja di sini.
Semoga bermanfaat 😁















