Assalamualaikum wr.wb
Ini dengan Wahida ~
Saya lanjut ya tulisan untuk blognya ☺
Jadi gini, saya ingat satu cerita tentang sedekah. Saya lupa siapa yang menceritakannya. Saya hanya ingin menceritakannya kembali, dari serak kumpulan ingatanku.
Ada satu keluarga petani di Jawa Tengah, punya satu anak yang baru lulus SMA. Keluarga ini ingin sekali anaknya masuk ke perguruan tinggi, meskipun yang tersisa hanya satu harta terbesar yaitu motor tua Bapak yang biasa digunakan bekerja.
Terjuallah motor itu dengan cepat, dengan harga pas-pasan, yang penting pas untuk biaya masuk kuliah dan yang penting pas untuk si anak berangkat ke kota.
Di tengah masa persiapan berangkat ke kota, suatu malam terketuk pintu rumah petani itu oleh saudara yang berasal dari desa seberang. Istrinya nyaris gagal melahirkan, butuh ditindak dan butuh biaya besar. Mendadak abu-abu atap langit-langit rumah petani, sebab asap kebingungan sesak memenuhi ruangan. Dia tatap mata sang anak yang ketakutan tidak jadi kuliah, dia anggukan kepala, dia ucap Bismillah, dia serahkan seluruh uang pada saudaranya, teriring pesan "mugi-mugi slamet bojomu" kata sang Bapak.
Sang anak masuk ke kamarnya-kecewa. Ibu berusaha menenangkan, Bapak bilang "aku dijanjeni, rezekiku ora mungkin mlayu, ra sah nangis, ra sah wedi" (saya dijanjikan rezeki yang tidak akan lari, jadi jangan menangis, jangan takut).
Hari berlalu dilewati sang anak yang akhirnya jadi petani, membantu Bapaknya di ladang orang, sedang ibu kembali jual sayur dan serabutan.
Hari berlalu, lewat ramadhan, hadir bulan syawal. diketuk rumah petani itu oleh suara mobil besar, rupanya juragan dari kota datang, sambang karena kebetulan lewat. Setelah topik basa-basi, muncul satu pertanyaan mendalam, menanyakan sang anak petani, tentang umurnya, kegiatannya, dan kemampuannya. Ditawarkanlah sang anak ikut bekerja di kota, diajarin jadi supir, "pelan pelan pasti bisa" ucap Datuk ini.
Atas izin kedua orangtuanya, ikut pergi sang anak hari itu juga ke kota. Melewati hari-hari belajar menyupir, lalu sah jadi supir Datuk, mengantarnya kesana kemari, mengurus bisnis besi tua. Diajarkan pula anak ini sedikit demi sedikit ilmu. Mulai ilmu berhitung yang pasti, ilmu meraba besi, menerka harga, tawar menawar dan hal-hal ini itu yang lainnya.
Suatu hari sang Satuk jatuh sakit, dirasa terlatih, Datuk mengutus si anak ini untuk mengurus sementara usahanya, bertemu orang ini itu, bersurat ini itu, tapi tentu saja masih dalam bimbingan datuk. Banyak keberhasilan yang lahir dari si anak, meski belum lari cepat, tapi yang ia lakukan selalu tepat.
Datuk makin melemah, dipanggil anak ini ke kamar Datuk, ditanya bagaimana perasaannya tiga tahun ini menjalani hari bersama, ditanyakan tekad dan niatnya tentang masa depan. Lalu Datuk memanggil anak wanita terakhirnya ikut masuk ke kamar, dan menanyakan sesuatu pada si anak petani dan anak bungsunya. Sudikah kiranya mereka menikah? Ditatapnya binar dua mata anak muda ini, besar kesanggupan mereka. Mereka sama-sama suka. Lalu terjadilah pernikahan itu. Tak ada setahun, Datuk meninggal dunia.
Pada suatu syawal, anak petani bersama istrinya pulang kampung, membawa banyak hal, tidak hanya harta, namun juga kabar gembira, kabar kehamilan sang istri. Senang bukan kepalang Bapak dan Ibu petani melihat anaknya kini. Tahunan di kota, jadi orang.
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba pintu diketuk. Ada saudara dari seberang desa. Saudara yang dulu pernah meminjam uang untuk menyelamatkan istrinya yang nyaris gagal melahirkan, datang bersama anak dan istrinya. Diam sang anak sejenak, lalu menangis mencium kaki sang Bapak, "Pak terima kasih sedekahnya". Ia ingat, andai hari itu dia jadi pergi ke kota untuk kuliah, mungkin hari ini dia masih sibuk mencari kerja, mungkin luntang-lantung dan belum menikah. Tapi tidak hari ini, tidak kuasa Tuhan yang ini.
~
Dari cerita di atas, saya jadi ingat dengan ayat berikut:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya" (Qs Saba' 39)."
Ayat ini sangat agung. Ia mengandung perintah untuk bersedekah dalam kebaikan dan berinfak fisabilillah. Lalu anjuran untuk bergembira dengan ganti dari kemurahan Allah Ta'ala. Bahwa sedekah dan infak termasuk sebab utama datangnya keberkahan dan dilipatgandakannya rezeki. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberi ganti dengan surga bagi siapa yang berinfak di jalan-Nya.
Masya Allah ~
❤❤❤


1 Comments
MasyaAllah
BalasHapus